Home / Artikel Umum / Kyai Solihin, Sosok Santri Pejuang ( Bag.2 )

Kyai Solihin, Sosok Santri Pejuang ( Bag.2 )

Mediaberitanasional - Melanjutkan kisah tentang Kyai Solihin, santri murid Hadratus Sayikh KH. Hasyim Asy'ari ( mbah Hasyim ) yang gagah berani dan tegas. 

Pada masa penjajahan Jepang, Kyai Solihin di berikan amanat oleh Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari menjadi Lurah di Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau menjalankan amanat tersebut dengan mengatur dan melaporkan segala rutinitas Pesantren pada Hadrotussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Walaupun ketika itu teror dan ancaman sering menerpa Pesantren, kang Solihin tak gentar menghadapinya. Disamping menjalankan amanat mbah Hasyim, beliau juga telah dibekali berbagai ilmu lahir batin dari orang tuanya Kyai Madamin yang notabene seorang ulama besar dari Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon.

Suatu Ketika ada kejadian di Pesantren Tebu Ireng dimana salah satu santri Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asyari yang bernama Mas Dawam ditembak oleh tentara Jepang. Jasadnya digantung di sebuah tempat yang terbuka, yang mana dimaksudkan sebagai bentuk intimidasi pada warga pribumi dan santri untuk tidak melawan karena siapapun yang akan melawan akan bernasib sama seperti itu. Jasad Syuhada Mas Dawam tidak ada yang berani mengambil. Dengan Perasaan duka dan prihatin, mbah Hasyim Asy’ari memerintahkan Kang Solihin untuk mengambil jasad mas Dawam. 

Dengan tekad yang kuat beliau menyatakan siap kemudian Hadrotus Syaikh membekali kang Solihin dengan sepucuk pistol milik Gus Kholiq. Dengan berbekal perintah guru dan semangat perjuangan, walau dalam keadaan hujan kang Solihin melangkah untuk mengambil jasad Syuhada tersebut. Sebelum mengambil Jasad tersebut beliau masuk ke sebuah Mushola untuk melaksanakan Sholat dengan dilanjutkan membaca wiridan yang telah diterima dari orang tuaya berupa Hizib Nashor, Hizib Nawawi, Hizib Bahri ditutup dengan Aji Penakluk berbahasa Cirebon.

Setelah selesai beliau Keluar dari Mushola tersebut sambil membawa beberapa jamaah untuk ikut dalam misi tersebut. Sesampainya didekat area pegambilan, beliau berdiri dan mengangkat pistol lalu menembakkan peluru keatas. Dengan izin Allah, suara letusan pistol itu terdengar oleh tentara Jepang bagaikan dentuman meriam hingga membuat tentara Jepang kaget dan bingung hingga lari tunggang laggang dan menanggalkan senjata yang di pegangnya. Kang Solihin bergegas mengambil jasad Mas Dawam sementara teman - teman yang lain mengambil senjata yang di tinggalkan tentara Jepang.

Dengan keberanian dan kemampuan Kyai Solihin, mbah Hasyim sering mempercayakan beliau untuk mendampingi setiap aktivitas perjuangan mbah Hasyim. 

Selain Kyai Solihin, ada beberapa putra Cirebon yang dikenal memiliki kemampuan yang mumpuni dalam bidang kejadukan. Seperti kyai Abbas Buntet dan kyai Amin Babakan yang berjuang di pesantrennya masing masing.

Penulis :

Cucu Menantu dan Khodimul Ma’had Assholihin Babakan Ciwaringin Cirebon

Diceritakan oleh : 

H. Fathulloh Sholihin ( salah satu Putra KH. Solihin ) 

Disampaikan oleh : 

1. Hj. Samsyiah (salah satu anak KH. Solihin )

2. Ulama Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon

3. Salah Satu Putra Hadratus Syaikh

4. KH. Makhtum Hanan ( Mustasyar PBNU )

About Koko Mahargyo

Check Also

Platform Digital Fluence.id Telah Diluncurkan Untuk Brand Owner, UMKM Dan Influencer

anto arifanto, founder fluence.id bersama para co-founder MEDIABERITANASIONAL(Surabaya) - Platform digital yang bernama Fluence.id telah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *