
MEDIABERITANASIONAL(Surabaya) – Minggu (10/5/2026) kawasan Sontoh Laut, Kelurahan Tambaksarioso Kecamatan Asem Rowo, kembali menggeliat dengan adanya aksi besar masyarakat Surabaya dalam giat penanaman pohon mangrove.
Kegiatan ini melibatkan masyarakat sekitar serta 36 organisasi kemasyarakatan (ormas), di antaranya Baksos’e Surabaya, Wing Pendidikan 700 Pertahanan Udara TNI AU, Hipakad, FKPPAL, hingga mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur, UNIPA Dukuh Menanggal, UWP Surabaya, Motherland Daerah Jatim dan bbrp Kelompok/Komunitas Masyarakat.
Dengan Langkah Mantab saat terbit Matahari, menuju lokasi di balik pekatnya lumpur pesisir Sontoh Laut. Tak sedikit dari peserta bersemangat menuju Lokasi Tanam Mangrove, bahkan ada yang harus merelakan sepatu botnya tertinggal, “ditelan” dalamnya lumpur yang basah.
Minggu, 10 Mei 2026, kawasan Sontoh Laut, Kelurahan Greges, Kecamatan Asem Rowo, menjadi saksi kolaborasi besar masyarakat Surabaya dalam giat penanaman pohon mangrove.
Di balik rimbunnya semak yang cukup tinggi dan medan yang menantang, semangat ratusan peserta tak sedikit pun pudar. Mereka tetap antusias membawa bibit-bibit hijau untuk ditanam di bibir pantai demi masa depan lingkungan yang lebih baik.
Muhamad Fikser, AP, MM, yang hadir dalam kegiatan tersebut mengenang bagaimana gerakan serupa telah menjadi budaya di Surabaya sejak puluhan tahun lalu. “Itu cikal bakalnya kerusakan hutan di Pantai Timur Surabaya, tepatnya di Wonorejo. Lalu warga melapor, pemerintah hadir, dan perusahaan seperti Sampoerna merespons dengan program satu juta pohon pada 2003. Akhirnya itu menjadi satu kebiasaan penanaman,” ujarnya.
Menurut Fikser, keberhasilan di Pantai Timur kini ingin direplikasi di wilayah Pantai Utara. Ia menekankan bahwa ekosistem mangrove yang terjaga memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga.
“Dampaknya adalah masyarakat di sana punya kebiasaan mencari kepiting, hasilnya meningkat karena mangrove jadi sumber penghidupan. Sekarang kita geser ke Pantai Utara karena di sini pusat bisnis logistik dan transportasi sudah jalan, tapi lingkungannya juga harus terjaga,” tambahnya.
Dalam skema penanaman ini, wilayah pantai mulai dibagi menjadi zona-zona tanggung jawab bagi para pengusaha. Salah satu pihak yang konsisten adalah Pelindo, yang memberdayakan bibit dari petani lokal untuk dibagikan secara gratis. Fikser juga memuji keterlibatan aktif kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan LSM yang tidak hanya menanam, tetapi juga merawat.
Camat Asemrowo, Mohammad Zulchaidir, yang memimpin koordinasi kegiatan ini menegaskan bahwa penanaman mangrove merupakan langkah strategis untuk menahan abrasi dan erosi di wilayah pesisir. Menurutnya, penghijauan ini tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga berkaitan erat dengan pemberdayaan ekonomi lokal.”Kegiatan ini adalah bentuk kepedulian bersama. Melalui penghijauan dan pemberdayaan, kami mendorong pelaku UMKM di sekitar lokasi agar bisa naik kelas dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Zulchaidir.
Kegiatan bertema “Hijaukan Pesisir, Lestarikan Kehidupan” tersebut bertujuan untuk mengurangi abrasi pantai, menjaga habitat biota laut, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan pesisir.
Selain menjadi upaya penghijauan, penanaman mangrove juga dinilai memiliki manfaat besar dalam menahan gelombang air laut, menyerap karbon, dan membantu menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah pantai Surabaya.
(MBN/KMP)




Media Berita Nasional | Lugas, Cepat Dan Terpercaya Menyajikan Berita Terkini Secara Lugas, Cepat Dan Terpercaya