Home / Artikel Umum / Abdurrahman Bin Auf, Sang Crazy Rich Yang Ingin Miskin

Abdurrahman Bin Auf, Sang Crazy Rich Yang Ingin Miskin

mediaberitanasional – Dalam menyebarkan Islam, Nabi Muhammad SAW di temani oleh banyak sahabatnya dengan latar belakang dan karakter yang berbeda – beda. Salah satunya adalah Abdurrahman bin Auf, sang ” Crazy Rich ” yang dikenal dengan si tangan emas.

Abdurrahman merupakan sahabat nabi yang paling kaya. Lahir sekitar tahun 581 masehi dengan nama Abdul Ka’bah atau riwayat lain menyebut juga nama Abd Amr dan berasal dari suku Quraishy Beliau menjadi salah satu dari sepuluh (10 ) orang sahabat yang dijanjikan masuk surga dan juga termasuk dalam golongan As – Sabiqunal Awwalun atau kelompok delapan ( 8 ) orang yang pertama kali masuk Islam.

Abdurrahman bin Auf merupakan seorang pebisnis sukses dari bidang perdagangan. Walaupun kaya raya, tak membuat beliau lupa diri. Beliau tidak kufur dan tamak, menjadi seorang dermawan yang gemar bersodaqoh, membelanjakan hartanya di jalan Allah. Bahkan tak hanya harta, beliau juga mengikuti semua peperangan dalam sejarah perjuangan Islam di era Nabi SAW.

Beliau pernah ditanya oleh seorang sahabat. “Apa yang menjadi rahasia keberhasilan dirimu wahai  Abdurrahman?” Abdurrahman pun menjawab, “Ada tiga. Pertama, saya tidak pernah menolak untung meski tidak banyak. Kedua, saya tidak pernah menunda pesanan orang meski hanya satu hewan. Ketiga, saya tidak menjual barang apa pun dengan sistem pembayaran tertunda ( riba ).”

Rahasia Sukses Abdurrahman bin Auf

  • Bermental Kaya

Dikisahkan, saat Rasulullah bersama umat muslim Makkah hijrah ke Madinah pada 622 M. Abdurrahman menjadi salah satu pengikutnya.  Di kota yang dulu bernama Yatsrib ini, Rasulullah mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Anshar, termasuk Abdurrahman bin Auf yang dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi Al – Anshari. Sa’ad termasuk orang kaya diantara penduduk Madinah, ia berniat membantu saudaranya dengan sepenuh hati. Namun Abdurrahman menolak walaupun tak punya uang sepeserpun, ia hanya berkata, ” Tunjukkanlah padaku di mana letak pasar di kota ini ! “. Sa’ad kemudian menunjukkan padanya di mana letak pasar Bani Qainuqa’. Inilah yang menunjukkan bahwa beliau bermental kaya.

  • Strategi Riset Pasar

Abdurrahman bin Auf datang ke pasar Bani Qainuqa’ dan melakukan riset market. Dalam riset tersebut beliau menemukan ternyata cangkul menjadi barang yang banyak laku. Sedangkan untuk melihat kebutuhan masyarakat, beliau meriset pekerjaan penduduk madinah yang ternyata sebagian besar pekerjaannya berkebun. Dari situlah beliau memutuskan untuk menjual cangkul. Itulah awal mula bisnis beliau, yang kemudian dalam perkembangannya beliau juga keju dan minyak samin yang juga menjadi kebutuhan masyarakat Madinah.

  • Strategi Negosiasi

Setelah melakukan riset, Abdurrahman mencari pedagang besar cangkul untuk diajak kerjasama. Beliau melakukan negosiasi untuk pembayaran mundur buat cangkul yang diambilnya. Mulai dari 5 cangkul sehari, naik menjadi 20 cangkul sehari hingga beliau memiliki kios sendiri.

  • Kerja Keras, Kerja Cerdas

Tanpa berbekal uang sepeserpun, Abdurrahman bin Auf melakukan strategi -strategi dagang seperti bekerja sama dengan Sa’ad untuk membeli tanah di sana dan disewakan kepada para pedagang. Dari jasa sewa tanah inilah ia berhasil meraup banyak uang. Selain itu, beliau juga tidak mematok untung besar tapi menjaga kualitasnya terbaik. Inilah yang menjadikan barangnya laris manis.

  • Melayani Sepenuh Hati

Semua pembeli dilayani dengan baik dan ramah, baik itu membeli dalam jumlah besar ataupun kecil. Sehingga setiap konsumennya merasa dihargai dan menjadi konsumen yang loyal.

  • Pandai Melihat Peluang

Terlihat ketika pertama masuk Madinah, dengan jeli beliau melihat peluang disana. Mulai menjual cangkul hingga menyewakan tanah. Di pasar Bani Qainuqa, sewa lahannya sangat mahal. Melihat hal ini, Abdurrahman mengajak Sa’ad untuk membeli sebuah tanah dan menjadikan tanah tersebut untuk dijadikan kavling – kavling jualan yang disewakan. Dari sinilah beliau mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Bahkan seandainya beliau mendapatkan sebongkah batu, maka di bawahnya akan didapatkan emas dan perak. Itulah kenapa Abdurrahman bin Auf dijuluki sebagai ” si Tangan Emas “.

  • Gemar Bersedekah

Albdurrahman bin Auf sangat gemar bersedekah brutal. Beliau pernah membeli tanah untuk dijadikan kavling – kavling pasar bagi pedagang Muslim tanpa harus membayar sewa. Beliau juga pernah memberikan 200 uqiyah emas (1 uqiyah=sekitar 31 gram emas) untuk kebutuhan logistik pada perang Tabuk. Belum lagi saat hendak wafat, ia berdonasi hingga 400 Dinar untuk 100 orang veteran perang Badar.

Jika dihitung, maka ia mendonasikan 400 Dinar x 100 (veteran perang Badar) = 40.000 dinar atau setara Rp 77,65 miliar. Di antara veteran tersebut, ada Utsman bin Affan RA dan juga Ali bin Abi Thalib KW. Belum lagi wasiat harta yang ia berikan kepada istri-istri Nabi SAW.

Bahkan, Siti Aisyah RA mendoakan Abdurrahman bin Auf berkat kedermawanannya tersebut, “Semoga Allah menyiraminya dengan cairan dari nektar.”

  • Menghindari Yang Haram dan Syubhat

Abdurrahman bin Auf sangat menghindari riba’. Pembayaran tertunda membuat arus keuangan akan tersendat. Sehingga bisa menyebabkan tidak tersedianya barang karena pembayaran tertunda. Beliau lebih memilih pembayaran tunai. Selain itu beliau menghindari praktek – praktek perdagangan yang haram dan tak jelas lainnya.

Berdoa Untuk Menjadi Miskin

 Abdurrahman bin Auf merupakan sosok yang terlalu kaya, sehingga sering disindir oleh Rasulullah, bahwa Abdurrahman akan masuk surga dengan berjalan merangkak. Para sahabat penasaran ketika mendengar perkataan Rasulullah ini. “Kenapa dia masuk dengan merangkak tidak seperti sahabat lainnya yang berjalan super kilat pada waktu masuk surga?” Rasulullah Saw menjawab: “Sebab dia terlalu kaya.”

Abdurrahman bin Auf menangis bila teringat sabda Rasulullah ini. Oleh sebab itu beliau pun sering berdoa “Jadikan aku ini miskin ! Aku ingin seperti Masab bin Umair atau Hamzah yang hanya meninggalkan sehelai kain pada saat meninggal dunia. Masab bin Umair ketika jasadnya dibungkus kafan, kakinya tertutup tapi kepalanya terbuka. Ketika ditarik ke atas, kepalanya tertutup tapi kakinya terbuka. Ya Allah !!” rintihnya.

Cerita Akhir Hidup

Abdurrahman bin Auf pun menghembuskan nafas terakhirnya sekitar tahun 654 masehi pada usia 73 tahun. Ia dimakamkan di Jannatul Baqi bersama dengan para tokoh-tokoh Islam terkenal lainnya.

Kekayaan Abdurrahman saat wafat ditaksir mencapai 3.200.000 Dinar atau lebih dari Rp 6,21 triliun jika dikonversi ke dalam bentuk uang rupiah. Hal ini berdasarkan asumsi dari Ibnu Hajar dalam Al-Fath, juz 14 halaman 448.

( MBN/ADM )

.

About admin_mbn

Check Also

Juliet, Platform Pendidikan Berbasis AI Telah Diluncurkan Di Surabaya

anto arifanto, founder juliet bersama para co-founder saat peluncuran juliet di jatim expo MEDIABERITANASIONAL(Surabaya) – …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *