
mediaberitanasional – Berawal dari pendirian Koperasi Pondok Pesantren ( Kopontren ) Sidogiri pada tahun 1961 oleh KA. Sa’doellah Nawawie selaku Penanggung Jawab dan Ketua Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri, menjadi cikal bakal berdirinya Toko Basmalah dikemudian hari.
Berdirinya koperasi diharapkan bisa menjadi wadah bagi santri untuk belajar kemandirian, wirausaha dan pengabdian. Kegiatan usaha pada mulanya adalah membuka kedai makanan dan minuman yang untuk memenuhi kebutuhan santri. Berkat ketelatenan dan kerja keras pengurus Kopontren Sidogiri, keuntungan dari membuka kedai makanan dan minuman kemudian dikembangkan untuk usaha lain yaitu dengan membuka toko kelontong dan toko kitab dan peralatan belajar. Semula hanya terbatas bagi lingkungan pesantren, namun kemudian berkembang ke sejumlah pasar di Pasuruan bahkan sekarang sudah berkembang se Indonesia.
Secara legalitas, Toko Basmalah memiliki Badan Hukum Koperasi tanggal 15 Bulan juli tahun 1997. Sejak 2013 kopontren Sidogiri membentuk infrastruktur brand Basmalah dengan nama Toko Basmalah menggunakan motto Tempat Belanja yang Baik. Sebagai salah satu unit usaha dari koperasi Pondok Pesantren Sidogiri yang bergerak dibidang usaha ritel, Hingga saat ini persebaran Toko Basmalah di 16 Kabupaten atau Kota Indonesia berjumlah sebanyak lebih dari 200 gerai. Basmalah sendiri adalah singkatan dari konsep dari Barakah, Syariah dan Maslahah.
Toko Basmalah menyediakan segala keperluan sehari-hari dengan harga yang bersaing sehingga menjadi tempat perkulakan bagi masyarakat yang memiliki usaha toko kelontong. Kebutuhan yang disediakan terdiri dari kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Toko Basmalah memiliki produk dengan private label yang terdiri dari produk makanan seperti beras, minyak goreng, air minum dalam kemasan. Dan private label untuk produk non-makanan seperti sarung dan baju koko.
Seiring dengan kecanggihan teknologi Toko Basmalah mengeluarkan kartu E-Maal. Kartu ini berfungsi untuk transaksi jual beli di Toko Basmalah dan dapat digunakan untuk menabung dan mentransfer seperti ATM. Dengan merogoh kocek sebesar Rp 10.000 kartu e – maal sudah dapat diperoleh di seluruh Toko Basmalah yang tersebar di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, pemilik kartu dapat top up dan mentransfer uang melalui outlet basmalah ataupun aplikasi e – maal.
Basmalah memiliki perbedaan dibandingkan dengan swalayan lain yaitu,
1. Mengusung pemerataan ekonomi
Toko Basmalah memakai sistem koperasi dengan membagi keuntungan usaha kepada sekian banyak orang yang menjadi anggota. Beda dengan supermarket, mereka konglomerat menggunakan konsep usaha yang menumpuk keuntungan pada segelintir orang.
2. Hanya jual beli
Yang ada hanya fokus transaksi jual-beli. Bukan pembayaran tagihan. Sedangkan supermarket kedua duanya.
3. Mengusung sistem syariah
Ketika selesai ambil barang, pembeli melakukan pembayaran ke kasir. Disinilah sistem syariah diterapkan, yaitu kasir berkata saya jual dan pembeli berkata saya beli. Sedangkan supermarket berkata terimakasih selamat datang kembali. Mereka hanya memakai logika dagang saja.
4. Produk lokal bisa diterima
Yang mencolok perbedaannya ya ini. Basmalah siap menerima produk lokal yang mampu bersaing dengan produk lain, contoh cemilan khas dan cinderamata.
5. Rekrut karyawan
Jika perekrutan melalui bursa lowongan kerja, Basmalah memanfaatkan SDM dari lulusan/alumni pondok pesantren.
( MBN/KMP )
Media Berita Nasional | Lugas, Cepat Dan Terpercaya Menyajikan Berita Terkini Secara Lugas, Cepat Dan Terpercaya