Home / Muslim Corner / Kyai Solihin, Sosok Santri Pejuang ( Bag.1 )

Kyai Solihin, Sosok Santri Pejuang ( Bag.1 )

Mediaberitanasional - Kyai Solihin, begitu beliau dikenal. Almaghfurlah Kyai Solihin merupakan seorang santri Hadratus Syaikh K.H Hasyim Asy'ari ( mbah Hasyim ). 

Nama lengkapnya adalah Kyai Solihin bin Kyai Muhammad Amin yang lahir sekitar tahun 1912 di Kota Cirebon, Jawa Barat. Beliau merupakan putra tertua dari Kyai Muhammad Amin ( ki Madamin ) dari Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon. 

Kyai Solihin mondok di Pesantren Tebu Ireng Jombang dan diasuh langsung oleh mbah Hasyim. Selain beliau, beberapa keluarganya juga mondok di Tebu Ireng. Seperti Kyai Bulkin Fanani ( adeknya ), Kyai Masduki Ali ( adek iparnya yang juga adek dari Kyai Idris Kamali, menantu mbah Hasyim ). 

Selain menjadi santri mbah Hasyim, Kyai Solihin menjadi pembantu setia sekaligus " tangan kanan " sang Hadratus Syaikh. 

Ketika mbah Hasyim dijemput paksa oleh tentara Jepang dan dibawa dengan mobil truk yang melaju dengan kencang, para santri berusaha menghentikanya. Namun para santri dihalangi oleh barisan tentara Jepang. Sekonyong - konyong Kyai Solihin melepaskan diri dari pengawalan dan berlari mengejar mobil yang sedang melaju kencang itu dan berhasil melompat kedalam truk yang membawa mbah Hasyim.

Sesampainya di markas Jepang, Jombang. Hadrotussyaikh langsung dibawa ke penjara, Kyai Solihin meminta untuk menemani sang guru dipenjara. Namun oleh Komandan Jepang tidak diperbolehkan masuk sambil mendorong beliau. Seketika itu dengan lantang Kyai Solihin berkata, ” Saya Solihin dari Cirebon, ” sambil menunjuk Komandan tersebut sampai para Komandan dan serdadu Jepang tertegun. Mengetahui hal itu mbah Hasyim langsung berujar “ ra popo “ maka Komandan tersebut mengizinkan beliau ikut dipenjara satu sel bersama Hadrotussyaikh Hasyim Asy’ari.

Selama 4 ( empat ) bulan kang Solihin sapaan akrab beliau, setia mendampingi Sang Guru Hadrotus Syaikh KH Hasyim Asy’ari di penjara. Beliau dengan penuh ta’dzim melayani segala kebutuhan gurunya dengan baik dan sigap. 

Seperti saat Hadrotus Syaikh ditempatkan di ruangan yang berdekatan dengan teras sehingga ketika hujan air masuk. Kyai Solihin mengelap ruang penjara dan mengusap telapak kaki mbah Hasyim dengan bajunya hingga Hadrotus Syaikh merasa tenang. 

Oleh karena itu tidak heran ketika Kyai Solihin meninggal, dalam Pembacaan Talqinnya oleh Kyai Ali Masina diematkan Syahadah “ Hadza Sohibus Sijni Mbah Hasyim Asy’ari ”.

Bersambung ke bagian 2 ...

( MBN/KMP )

About Koko Mahargyo

Check Also

Kenikmatan Akibat Berpuasa

ilustrasi puasa MEDIABERITANASIONAL - Orang muslim berpuasa bukan hanya untuk melaksanakan perintah agamanya tetapi juga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *