Mediaberitanasional - Namanya adalah Zaid bin Haritsah, satu - satunya sahabat Nabi Muhammad S.A.W dari bangsa kaum Qurais Bani Kalb yang namanya diabadikan dalam Al Quran.
Beliau memiliki nama lengkap Zaid bin Haritsah bin Syarahil bin Ka'ab bin Abdil - Uzza bin Yazid bin Imri’il - Qais bin Amir bin an-Nu‘man. Dilahirkan pada tahun 47 sebelum hijrah ( 576 ) dan wafat 8 H ( 629 ) di usia ke 55 tahun.
Ketika kecil, Zaid bin Haritsah diajak ibunya, Su'da binti Tsa'labah ke kampung Bani Mu'in. Di kampung tersebut, sekawanan tentara berkuda dari Bani al - Qin bin Jusr menyerang dan merampas serta menawan apapun yang berharga dari kampung tersebut, termasuk Zaid bin Haritsah yang akhirnya dijadikan budak belian. Beliau kemudian dibawa ke pasar Ukazh dan dijual seharga 400 dirham kepada Hakam bin Hizam bin Khuwailid. Hakam bin Hisyam kemudian memberikan Zaid bin Haritsah kepada bibinya yaitu Siti Khadijah bin Khuwailid, istri Rasulullah. Oleh Khadijah selanjutnya diberikan kepada Rasulullah yang kemudian memerdekakannya.
Zaid bin Haritsah merupakan salah satu pemeluk Islam yang paling awal ( As - Sabiqun Al - Awwalun ). Beliau menjadi sahabat dan anak angkat Rasulullah. Namun karena dalam Islam status anak angkat tak mengubah nasabnya, beliau tidak bisa dipanggil dengan Zaid bin Muhammad sehingga tetap menjadi Zaid bin Haritsah. Kendati demikian, kedudukannya di mata Nabi Muhammad S.A.W tetaplah mulia sehingga beliau pun dipanggil dengan Habibu Rasulillah atau orang terkasih Rasulullah saw.
Selain sebagai sahabat dan anak angkat Rasulullah, Zaid bin Haritsah menjadi pelayan Rasulullah yang setia. Ini ditunjukkan dengan keikutsertaan beliau hijrah ke Madinah serta mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam.
Dalam kehidupannya Zaid bin Haritshah pernah menikahi Zainab binti Jahsy radhiyallahu 'anha, seorang perempuan terpandang keturunan Quraisy dari suku As’ad namun berujung dengan perceraian. Zainab pun akhirnya dinikahi oleh Rasulullah. Pada pernikahan keduanya, beliau memiliki putra yang bernama Usamah bin Zaid bin Haritsah buah dari pernikahannya dengan Ummi Ayman. Putranya tersebut kemudian menjadi Panglima Perang Rasulullah yang termuda.
Wafatnya Zaid bin Haritsh Dalam Pertempuran Mu'tah
Pertempuran Mu'tah terjadi pada 629 M atau 5 Jumadil Awal 8 Hijriah, dekat kampung yang bernama Mu'tah di sebelah timur Sungai Yordan dan Al Karak. Sebuah pertempuran antara pasukan Khulafaur Rasyidin yang dikirim oleh Nabi Muhammad S.A.W dengan tentara Kekaisaran Romawi Timur ( Bashra ).
Perang ini dilatar belakangi oleh dibunuhnya utusan Rasulullah, al - Harits bin ‘Umair saat mengirimkan surat dakwah sekaligus berdiplomasi kepada kepada Gubernur Syam ( Irak ) bernama Hanits bin Abi Syamr Al - Ghassani yg baru diangkat oleh Kekaisaran Romawi. Dalam Perjalanan di daerah sekitar Mut'ah, al - Harits bin ‘Umair dicegat dan dibunuh oleh penguasa setempat bernama Syurahbil bin ‘Amr al - Ghassani pemimpin dari suku Ghassaniyah ( pada waktu itu menjadi penguasa wilayah Palestina dan sekitarnya ).
Pada tahun yg sama utusan Rasulullah pada Banu Sulayman dan Dhat al Talh daerah di sekitar negeri Syam ( Irak ) juga dibunuh oleh penguasa sekitar padahal sebelumnya tidak pernah seorang utusan dari Rasulullah dibunuh dalam misinya.
Rasulullah kemudian memberangkatkan 3000 pasukan dan menunjuk tiga orang sahabat sekaligus untuk mengemban amanah sebagai panglima perang secara bergantian bila panglima sebelumnya gugur dalam tugas di medan peperangan. Sebuah keputusan yang belum pernah beliau lakukan sebelumnya. Mereka itu adalah Zaid bin Haritsah, Ja'far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah, seorang penyair Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.
Tiga ribu pasukan Islam melawan pasukan Roma pimpinan Heraklius sejumlah 100 ribu pasukan serta dari kaum Nasrani dan beberapa suku Arab ( kaum musyrikin Arab ) dengan jumlah yang sama, 100 ribu pasukan juga.
Zaid bin Haritsah, panglima pertama yang ditunjuk Rasulullah membawa pasukan ke wilayah Mu’tah. Perang berlangsung dengan sengit. Beliau sebagai Panglima pertama dengan gagah berani menebasi anak panah - anak panah pasukan musuh sampai akhirnya beliaupun tewas terbunuh di jalan Allah Azza wa Jalla.
Sepeninggal Zaid bin Haritsah, bendera pun beralih ke tangan Ja’far bin Abi Thalib. Sepupu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam ini berperang sampai tangan kanannya putus. Bendera beliau pegangi dengan tangan kiri dan akhirnya putus pula oleh tangan musuh. Dalam kondisi demikian, semangat beliau tak mengenal surut, saat tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara memeluknya sampai beliau gugur oleh senjata lawan.
Giliran Abdullah bin Rawanah pun datang. Setelah menerjang musuh, ajal pun menjemput beliau di medan peperangan. Tsabit bin Arqam mengambil bendera yang telah tak bertuan itu dan berteriak memanggil para Sahabat Nabi agar menentukan pengganti yang memimpin kaum muslimin.
Maka, pilihan mereka jatuh pada Khalid bin Walid. Dengan kecerdikan dan kecemerlangan siasat serta strategi. Atas ijin dan taufik dari Allah Azza wa Jalla, kaum muslimin berhasil memukul Romawi hingga mengalami kerugian yang banyak.
Peperangan Mu’tah ini sangat sengit dibuktikan dengan Khalid bin Walid rahimahullah yang menghabiskan 9 pucuk pedang dalam perang tersebut. Hanya satu pedang yang tersisa, pedang buatan Yaman.
Menurut bebrapa riwayat, syuhada perang Mu’tah secara terperinci yaitu Ja’far bin Abi Thalib, dan mantan budak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam Zaid bin Haritsah al - Kalbi, Mas’ud bin al - Aswad bin Haritsah bin Nadhlah al - ‘Adawi, Wahb bin Sa’d bin Abi Sarh radhiyallahu ‘anhum.
Sementara dari kalangan kaum anshar, ‘Abdullah bin Rawahah, ‘Abbad bin Qais al - Khozarjayyan, al - Harits bin an - Nu’man bin Isaf bin Nadhlah an - Najjari, Suraqah bin ‘Amr bin Athiyyah bin Khansa al-Mazini radhiyallahu ‘anhum.
Di sisi lain, Imam Ibnu Hisyam rahimahullah dengan berlandaskan keterangan az-Zuhri rahimahullah, menambahkan empat nama dalam deretan Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang gugur di medan perang Mu’tah. Yakni, Abu Kulaib dan Jabir. Dua orang ini saudara sekandung. Ditambah ‘Amr bin ‘Amir putra Sa’d bin Tsa’labah bi Malik bin Afsha. Mereka juga berasal dari kaum anshar.
Dengan ini, jumlah syuhada perang yang gugur dari pasukan muslim hanya 12 orang, sedangkan dari pihak lawan dikabarkan ribuan pasukan berguguran.
Munculnya Nama Zaid Bin Haritsah di Al Quran
Sepeninggal cerainya Zaid bin Haritsah dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu 'anha. Pada saat Zainab menungu masa idahnya berakhir, Allah menurunkan perintah melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah agar menikah dengan Zainab melalui firmannya pada surat Al Ahzab ayat 37:
وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ ۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا
Artinya: “Dan ( ingatlah ), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu ( juga ) telah memberi nikmat kepadanya: “ Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah ”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah - lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya ( menceraikannya ), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk ( mengawini ) isteri - isteri, anak - anak angkat mereka, apabila anak - anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.”
( MBN/KMP )
Media Berita Nasional | Lugas, Cepat Dan Terpercaya Menyajikan Berita Terkini Secara Lugas, Cepat Dan Terpercaya